هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِى لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ‌ۖ عَـٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَـٰدَةِ‌ۖ هُوَ ٱلرَّحۡمَـٰنُ ٱلرَّحِيمُ. هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِى لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡقُدُّوسُ ٱلسَّلَـٰمُ ٱلۡمُؤۡمِنُ ٱلۡمُهَيۡمِنُ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡجَبَّارُ ٱلۡمُتَڪَبِّرُ‌ۚ سُبۡحَـٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِڪُونَ. هُوَ ٱللَّهُ ٱلۡخَـٰلِقُ ٱلۡبَارِئُ ٱلۡمُصَوِّرُ‌ۖ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ‌ۚ يُسَبِّحُ لَهُ ۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ‌ۖ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ

Laman

Rabu, 18 Juli 2012

WALI ALLAH: TINGKATAN, JUMLAH DAN PANGKAT WALI ALLAH

WALI ALLAH: TINGKATAN, JUMLAH DAN PANGKAT WALI ALLAH


1. Al Aqtab berasal dari kata tunggal Al Qutub yang memiliki arti penghulu. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa Al Aqtab adalah derajat kewalian yang tertinggi. Jumlah wali yang memiliki derajat tersebut hanya terbatas seorang saja untuk setiap waktunya. Seperti Abu Yazid Al Busthami dan Ahmad Ibnu Harun Rasyid Assity. Di antara mereka ada yang memiliki posisi di bidang pemerintahan, meskipun tingkatan taqarrubnya juga mencapai derajat tinggi, seperti para Khulafa? Ur Rasyidin, Al Hasan Ibnu Ali, Muawiyah Ibnu Yazid, Umar Ibnu Abdul Aziz dan Al Mutawakkil.
2. Al Aimmah
berasal dari kata tunggal imam yang memiliki arti pemimpin. Setiap waktunya hanya ada dua orang saja yang dapat mencapai derajat Al Aimmah. Keistimewaannya, ada di antara mereka yang pandangannya hanya tertuju ke alam malakut saja, ada pula yang pandangannya hanya tertuju di alam malaikat saja.
3. Al Autad beraari kata tunggal Al Watad yang memiliki arti pasak. Yang memperoleh derajat Al Autad hanya ada empat orang saja setiap waktunya. Kami menemukan seorang di antara mereka dikota Fez di Morocco. Mereka tinggal di utara, di timur, di barat dan di selatan bumi, mereka bagaikan penjaga di setiap pelosok bumi.
hanya dengan ilmu bisa mengenal. kalau tidak musuh yang nyata dapat menyamar.
4. Al Abdal
berasal dari kata Badal yang memiliki arti menggantikan. Yang memperoleh derajat Al Abdal itu hanya ada tujuh orang dalam setiap waktunya. Setiap wali Abdal ditugaskan oleh Allah untuk menjaga suatu wilayah di bumi ini. Dikatakan di bumi ini memiliki tujuh daerah. Setiap daerah dijaga oleh seorang wali Abdal. Jika wali Abdal itu meninggalkan tempatnya, maka ia akan digantikan oleh yang lain. Ada seorang yang bernama Abdul Majid Bin Salamah pernah bertanya pada seorang wali Abdal yang bernama Muaz Bin Asyrash, praktek apa yang dikerjakannya sampai ia menjadi wali Abdal? Jawab Mu’adz Bin Asyrash: “Para wali Abdal mendapatkan derajat tersebut dengan empat kebiasaan, yaitu sering lapar, gemar beribadah di malam hari, suka diam dan mengasingkan diri”.
5. An Nuqaba? berasal dari kata tunggal Naqib yang memiliki arti kepala kaum. Jumlah wali Nuqaba? dalam setiap waktunya hanya ada dua belas orang. Wali Nuqaba? itu diberi karamah mengerti sedalam-dalamnya tentang hukum-hukum syariat. Dan mereka juga diberi pengetahuan tentang rahasia yang tersembunyi di hati seseorang. Selanjutnya mereka pun mampu untuk meramal tentang karakter dan nasib seorang melalui bekas jejak kaki seseorang yang ada di tanah. Sebenarnya hal ini tidaklah aneh. Kalau anggota jejak dari Mesir bisa mengungkap rahasia seorang setelah melihat bekas jejaknya. Apakah Allah tidak mampu membuka rahasia seseorang kepada seorang waliNya?
6. An Nujaba?
berasal dari kata tunggal Najib yang memiliki arti bangsa yang mulia. Wali Nujaba? pada umumnya selalu disukai orang. Dimana saja mereka mendapatkan sambutan orang banyak. Kebanyakan para wali tingkatan ini tidak merasakan diri mereka adalah para wali Allah. Yang dapat mengetahui bahwa mereka adalah wali Allah hanyalah seorang wali yang lebih tinggi derajatnya. Setiap zaman jumlah mereka hanya tidak lebih dari delapan orang.
7. Al Hawariyun
berasal dari kata tunggal Hawariy yang memiliki arti penolong. Jumlah wali Hawariy ini hanya ada satu orang saja di setiap zamannya. Jika seorang wali Hawariy meninggal, maka kedudukannya akan di-ganti orang lain. Di zaman Nabi hanya sahabat Zubair bin Awwam saja yang mendapatkan derajat wali Hawariy seperti yang dikatakan oleh sabda Nabi:
“Setiap Nabi memiliki Hawariy. Hawariyku adalah Zubair ibnul Awwam “.
Meskipun pada waktu itu Nabi memiliki cukup banyak sahabat yang setia dan selalu berjuang di sisi beliau. Tetapi beliau saw berkata demikian, karena ia tahu hanya Zubair saja yang meraih derajat wali Hawariy. Kelebihan seorang wali Hawariy biasanya seorang yang berani dan pandai berhujjah.
8. Ar Rajbiyun
berasal dari kata tunggal Rajab. Wali Rajbiyun itu adanya hanya di bulan Rajab saja. Mulai awal Rajab hingga akhir bulan mereka itu ada. Selanjutnya kondisi mereka kembali normal seperti semula. Setiap waktu, jumlah mereka hanya ada empat puluh orang saja. Para wali Rajbiyun ini terpecah di berbagai wilayah. Di antara mereka ada yang saling mengenal, tapi kebanyakan tidak. Disebutkan bahwa ada sebagian orang dari Wali Rajbiyun yang dapat melihat hati orang-orang Syiah melalui kasyaf. Ada dua orang Syiah yang mengaku sebagai Ahlu Sunnah dihadapan seorang wali Rajbiyun. Lalu keduanya diusir, karena wali Rajbiyun itu melihat keduanya berupa dua ekor babi, sebab keduanya membenci Abu Bakar, Umar dan sahabat-sahabat lain. Ke-duanya hanya mencintai Ali dan sejumlah sahabatnya. Ketika keduanya bertanya padanya, maka si wali tersebut berkata: “Aku lihat kamu berdua berupa dua ekor babi, karena kamu menganut mazhab Syiah dan membenci para sahabat Nabi”. Ketika berita itu disadari kebenarannya oleh keduanya, maka keduanya mengaku benar dan cepat memohon ampun kepada Allah. Demikianlah secebis kisah kasyaf seorang wali Rajbiyun.
Pada umumnya, di bulan Rajab, sejak awal harinya, para wali Rajbiyun menderita sakit, sehingga mereka tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya. Selama bulan Rajab, mereka senantiasa mendapat berbagai pengetahuan secara kasyaf, kemudian mereka memberitahukannya kepada orang lain. Anehnya penderitaan mereka hanya bertahan di bulan Rajab. Setelah bulan Rajab berakhir, maka kesehatan mereka kembali seperti semula.
9. Al Khatamiyun
berasal dari kata Khatam yang memiliki arti penutup atau penghabisan. Maksudnya derajat Al Khatamiyun adalah sebagai penutup para wali. Jumlah mereka hanya seorang. Tidak ada derajat kewalian umat Muhammad yang lebih tinggi dari tingkatan ini. Jenis wali ini hanya akan ada di akhir masa, yaitu ketika Nabi Isa as.datang kembali.
Di antaranya, ada para Wali yang hatinya seperti Nabi Adam as. Jumlah mereka hanya tiga ratus orang. Sabda Nabi saw: “Mereka berhati seperti hati Adam as”. Mereka diberi penghargaan tersendiri oleh Allah. Syeikh Muhyidin berkata: “Jumlah wali jenis ini bukan hanya tiga ratus orang saja dikalangan
umatnya, tetapi ada juga kalangan umat-umat lain. Tentang keberadaan mereka hanya dapat diketahui secara kasyaf. Setiap waktunya dunia tidak pernah kosong dari keberadaan mereka. Mereka memiliki budi pekerti Ilahi, mereka sangat dekat disisi Allah. Doa mereka selalu diterima oleh Allah. Mereka senang dengan doa: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami suka menganiaya diri kami. Jika Engkau tidak berkenan memberi ampunan dan kasih sayang kepada kami, pasti kami akan termasuk orang-orang yang rugi “.
Di antara mereka ada pula yang berhati seperti hati Nuh as. Jumlah mereka hanya empat puluh orang di setiap zamannya. Hati mereka seperti hatinya Nabi Nuh as. Beliau adalah Nabi dan Rasul pertama. Mereka suka berdoa, seperti doa Nuh as yang artinya: “Tuhan, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan siapa saja dari orang beriman, lelaki atau wanita yang masuk ke dalam rumahku dan jangan Engkau tambahkan bagi orang-orang yang berbuat aniaya kecuali kebinasaan” .
Tingkatan wali dari jenis ini sulit diraih orang, sebab fitur khusus mereka sangat keras dalam menegakkan agama, seperti sifat Nabi Nuh as. Mereka selalu memperhatikan sabda Nabi saw yang artinya: “Barangsiapa yang beribadah selama empat puluh hari dengan penuh ikhlas, maka akan terpancar ilmu hakikat dari lubuk hatinya ke lidahnya”.
Di antaranya pula ada yang berhati seperti hati Ibrahim. Jumlah wali jenis ini hanya ada tujuh orang dalam setiap zamamnya. Rasulullah saw pernah menceritakan tentang mereka dalam salah satu sabdanya. Mereka suka dengan doa Nabi Ibrahim as yang artinya: “Tuhanku, berikan kepadaku kebijaksanaan, dan ikutkan aku ke orang-orang saleh”. Mereka diberi keistimewaan yang luar biasa, hati mereka dibersihkan dari rasa ragu, rasa dengki dan rasa buruk sangka terhadap Khalik maupun makhluk, mereka dilindungi dari segala perbuatan buruk.
Syeikh Muhyiddin mengatakan: “Aku pernah menemui salah seorang dari jenis wali tersebut, aku kagum dengan kemuliaan budi pekertinya, luas pengetahuannya dan kesucian hatinya, sampai aku beranggapan bahwa kese-nangan surga telah dipercepat baginya”.
Di antaranya pula ada yang berhati seperti hati Malaikat Jibril. Jumlah wali jenis ini hanya ada lima orang saja dalam setiap zamannya. Rasulullah saw pernah menyebut tentang mereka dalam salah satu sabdanya. Mereka diberi kekuatan seperti yang diberikan kepada malaikat Jibril yang amat kuat. Di hari kiamat, mereka akan dikumpulkan dengan malaikat Jibril. Dan malaikat Jibril senantiasa membantu rohani mereka, sehingga mereka selalu terpimpin.
Diantaranya pula ada yang berhati seperti hati Malaikat Mikail as. Jumlah mereka hanya ada tiga orang saja dalam setiap waktunya. Keistimewaan
mereka suka berlemah-lembut terhadap semua orang, dan mereka diberi kekuatan seperti Malaikat Mikail.
Di antaranya pula ada yang berhati seperti hati Malaikat Israfil. Jumlah mereka hanya ada satu orang saja dalam setiap zamannnya. Nabi saw pernah menyebut tentang mereka dalam salah satu sabdanya. Menurut pengamatan kami, Syeikh Abu Yazid Al Bustami termasuk salah seorang dari jenis wali ini. Termasuk juga Isa as. Syeikh Al Muhyiddin mengatakan: “Diantara tokoh-tokoh sufi ada yang diberi hati seperti hati Yesus, posisi mereka sangat tinggi di sisi Allah”.
Di antaranya pula ada yang diberi hati seperti hati Nabi Daud. Jumlah mereka di setiap waktunya hanya terbatas beberapa orang saja. Mereka diberi berbagai keistimewaan, posisi tinggi di dunia dan ketebalan iman.
10. Di antaranya pula ada yang diberi pangkat Rijalul Ghaib
atau manusia-manusia misterius. Jumlah wali jenis ini hanya sepuluh orang di setiap masanya. Mereka orang-orang yang selalu khusyu?, Mereka tidak berbicara kecuali dengan perlahan atau berbisik, karena mereka merasa bahwa Allah selalu mengawasi mereka. Mereka sangat misterius, sehingga keberadaan mereka tidak banyak dikenal kecuali oleh ahlinya. Mereka selalu rendah hati, malu dan mereka tidak banyak mementingkan kesenangan dunia. Bisa dikata segala tindak tanduk mereka selalu misteri.
Di antaranya pula ada yang selalu menegakkan agama Allah. Jumlah mereka hanya delapan belas orang di setiap masanya. Fitur khusus mereka adalah selalu menegakkan hukum-hukum Allah. Dan mereka bersikap keras terhadap segala penyimpangan.
Syeikh Abu Madyan termasuk salah seorang di antara mereka. Ia berkata kepada murid-muridnya: “Tampilkan ke manusia tanda redha kamu sebagaimana kamu menampilkan rasa ketidaksenangan kamu, dan perlihatkan kepada manusia segala nikmat yang diberikan Allah, baik yang zahiriyah maupun batiniyah seperti yang dianjurkan Allah dalam firmanNya berikut:
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaknya engkau menyebut-nyebutnya sebagai tanda bersyukur”
11. Di antaranya pula ada wali yang dikenal dengan nama Rijalul Quwwatul Ilahiyah
artinya orang-orang yang diberi kekuatan oleh Tuhan. Jumlah mereka hanya delapan orang saja di setiap zamannya. Wali jenis ini memiliki keistimewaan, yaitu sangat tegas terhadap orang-orang kafir dan terhadap orang-orang yang suka menghargai agama. Sedikit pun mereka tidak takut oleh kritikan orang. Di kota Fez ada seorang yang bernama Abu Abdullah Ad Daqqaq. Ia dikenal sebagai seorang wali dari jenis Rijalul Quwwatul Ilahiyah.
Di antaranya pula ada jenis wali yang sifatnya keras dan tegas. Jumlah mereka hanya ada 5 orang disetiap zamannya. Meskipun karakter mereka tegas, tetapi sikap mereka lemah lembut terhadap orang-orang yang suka berbuat kebajikan.
12. Di antaranya pula ada jenis wali yang dikenal dengan nama Rijalul Hanani Wal Athfil Illahi
artinya mereka yang diberi rasa kasih sayang Allah. Jumlah mereka hanya ada lima belas orang di setiap zamannya. Mereka selalu bersikap kasih sayang terhadap manusia baik terhadap yang kafir maupun yang mukmin. Mereka melihat manusia dengan pandangan kasih sayang, karena hati mereka dipenuhi rasa insaniyah yang penuh rahmat.
13. Di antaranya pula ada yang termasuk Rijalul haibah Wal Jalali
. Jumlah mereka hanya empat orang di setiap masanya. Jenis wali tingkatan ini dikenal sebagai orang-orang yang hebat dan mengagumkan, meskipun sifat mereka lemah lembut, tetapi orang-orang yang menemukan mereka akan tunduk. Mereka tidak dikenal di bumi, tapi mereka adalah orang-orang yang dikenal di langit. Di antara mereka ada yang memiliki hati seperti Nabi Muhammad saw, ada pula yang memiliki hati seperti Syuaib, Nabi Salleh dan Rasul itu. Sayyid Muhyiddin mengatakan: “Aku pernah menemui wali kaum ini di kota Damaskus”.
14. Di antaranya pula ada yang termasuk Rijalul Fathi.
Artinya rahasia-rahasia Allah selalu terbuka untuk mereka. Jumlah mereka hanya ada 24 orang di setiap masanya. Jumlah mereka sama dengan jumlah jam, yaitu 24 orang. Meskipun demikian, mereka tidak pernah berkumpul di satu tempat dalam jumlah sebanyak itu. Adanya mereka menyebabkan terbukanya pintu-pintu pengetahuan, baik yang nyata maupun yang rahasia.
15. Di antaranya pula ada yang termasuk dalam kelompok Rijalul Ma? Arij Al? Ula
. Jumlah mereka hanya tujuh orang di setiap masanya. Mereka termasuk wali-wali tingkatan tinggi, hampir setiap saatnya mereka naik ke alam malakut, mereka adalah orang-orang pilihan.
16. Di antaranya pula ada yang termasuk Rijalu Tahtil Asfal
, yaitu mereka yang berada di alam terbawah di bumi. Jumlah mereka tidak lebih dari 21 orang di setiap masanya. Fitur khusus wali ini, hati mereka selalu hadir di depan Allah.
17. Di antaranya pula ada yang termasuk Rijalul Imdadil Ilahi Wal Kauni
, yaitu mereka yang selalu mendapat karunia Ilahi. Jumlah mereka tidak lebih dari tiga orang di setiap masanya. Mereka selalu mendapat pertolongan Allah untuk menolong manusia sesamanya. Sikap mereka dikenal lemah lembut dan berhati penyayang. Mereka senantiasa menyalurkan anugerah-anugerah Allah kepada manusia. Pokoknya, adanya mereka menunjukkan berpanjangannya kasih sayang Allah kepada makhlukNya.
18. Di antaranya pula ada yang termasuk Ilahiyun Rahmaniyun
, yaitu manusia-manusia yang diberi rasa kasih sayang yang luar biasa. Jumlah mereka ini hanya tiga orang di setiap masanya. Sifat mereka seperti wali-wali Abdal, meskipun mereka tidak termasuk didalamnya. Favorit mereka suka mempelajari firman-firman Allah.
19. Di antaranya pula ada yang termasuk Rijalul Istithaalah
, yaitu manusia-manusia yang selalu mendapat pertolongan Allah. Jumlah mereka hanya seorang dalam setiap waktunya. Yang termasuk kelompok ini adalah Syeikh Abdul Qadir Jailani. Mereka selalu menolong manusia dan mereka sangat ditakuti.
20. Di antaranya pula ada yang termasuk Rijalul Ghina Billah
, yaitu orang-orang yang tidak membutuhkan kepada manusia sedikit pun. Jumlah mereka hanya dua orang di setiap masanya. Mereka selalu mendapat siraman rohani dari alam malakut, sehingga kelompok ini tidak membutuhkan kepada bantuan siapa pun, selain bantuan Allah.
21. Di antaranya pula ada yang termasuk Rijalu? AINUT Tahkim Waz Zawaid. Jumlah mereka hanya sepuluh orang di setiap zamannya. Mereka senantiasa meningkatkan keyakinannya terhadap masalah-masalah yang gaib. Seluruh hidup mereka terlihat aktif di semua aktivitas ibadah.
22. Di antaranya pula ada yang termasuk Rijalul Isytiqaq
, yaitu mereka yang selalu rindu kepada Allah. Jumlah mereka hanya lima orang di setiap zamannya. Favorit mereka hanya memperbanyak shalat di siang hari dan di malam hari.
23. Di antaranya, ada yang termasuk Al Mulamatiyah
. Mereka tergolong dari wali derajat yang tinggi, pimpinan tertingginya adalah Nabi Muhammad saw. Mereka sangat berhati-hati dalam melaksanakan syariat Islam. Segala sesuatu mereka tempatkan di tempatnya yang tepat. Tindak tanduk mereka selalu didasari rasa takut dan hormat kepada Allah. Tentu saja keberadaan mereka sangat diperlukan, meskipun mereka tidak terbatas. Ada kalanya jumlah mereka meningkat, tetapi ada kalanya pula jumlah mereka berkurang.
24. Di antaranya, ada pula yang termasuk Al fuqara?
. Jumlah mereka ada kalanya meningkat dan ada kalanya berkurang. Fitur khusus mereka ini selalu merendahkan diri. Mereka merasa rendah di hadapan Allah.
25. Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam kelompok As Sufiyyah
. Jumlah mereka tidak terbatas. Ada kalanya tumbuh dan terkadang pula berkurang. Mereka dikenal sebagai wali yang sangat luhur budi pekertinya. Mereka selalu menghias diri mereka dengan kebajikan-kebajikan yang sesuai dengan ketinggian budi pekerti mereka.
26. Di antaranya, ada pula yang termasuk Al? Ibaad
. Mereka dikenal sebagai orang-orang yang suka beribadah. Pokoknya, ibadah merupakan kegiatan mereka sehari-hari, mereka suka mengasingkan diri di gunung-gunung, di lembah-lembah dan di pantai-pantai. Di antara mereka ada yang mau bekerja, tetapi kebanyakan dari mereka meninggalkan semua kegiatan duniawi. Puasa sepanjang masa dan beribadah di malam hari merupakan syiar mereka. Sebab, menurut mereka dunia ini adalah tempat untuk menyuburkan amal-amal di akhirat.
Abu Muslim Al Khaulani adalah di antara wali tingkatan ini. Biasanya jika ia merasa letih ketika beribadah di malam hari, maka ia memukul kedua kakinya seraya berkata: “Kamu berdua lebih cepat dipukul dari binatang ternakanku”.
27. Di antaranya, ada pula yang termasuk Az Zuhaad
. Mereka termasuk orang-orang yang suka meninggalkan kesenangan duniawi. Mereka memiliki harta, tetapi mereka tidak pernah menikmatinya sedikit, sebab, seluruh hartanya mereka nafkahkan pada jalan Allah. Sayyid Muhyiddin mengatakan: “Di antara pamanku ada yang tergolong dari wali tingkatan ini”. Disebutkan bahwa Syeikh Abdullah At Tunisi, seorang ahli ibadah di masanya, ia dikenal sebagai salah seorang wali Az Zuhad. Pada suatu hari, penguasa kota Tilmasan menghampiri tempat Syeikh Abdullah seraya berkata kepadanya: “Wahai Syeikh Abdullah, apakah aku bisa shalat dengan pakaian kebesaranku ini?” Mendengar pertanyaan itu, Syeikh Abdullah tertawa. Tanya si penguasa: “Mengapa engkau tertawa, wahai Syeikh? Jawab Syeikh Abdullah: “Aku tertawa karena lucunya pertanyaanmu tadi, sebab meng-apa engkau bertanya kepadaku seperti itu, padahal pakaianmu dan makananmu dari harta yang haram?” Mendengar jawaban Syaikh Abdullah seperti itu, maka si penguasa menangis dan menyatakan taubatnya kepada Syaikh, selanjutnya ia meninggalkan kekuasaannya demi untuk mengabdikan diri kepada Syeikh Abdullah, sehingga beliau berkata: “Mintalah doa kepada Yahya Bin Yafan, sesungguhnya ia adalah seorang penguasa dan seorang anggota zuhud, andaikata aku diuji sepertinya, mungkin aku tidak dapat melaksanakannya”.
28. Di antaranya, ada pula yang termasuk Rijalul Maa? I
. Mereka adalah para wali yang senantiasa beribadah di pinggir-pinggir laut dan sungai. Mereka tidak banyak dikenal, karena mereka suka mengasingkan diri. Disebutkan, bahwa Syeikh Abu Saud Asy Syibly pernah berada di pinggir sungai Dajlah di Baghdad. Ketika hatinya bergerak: “Apakah ada di antara hamba-hamba Allah yang beribadah di dalam air?” Tiba-tiba ada seorang yang muncul dari dalam air seraya berkata: “Ada, wahai Abu Saud. Di antara hamba-hamba Allah ada juga yang beribadah di dalam air dan aku termasuk di antara mereka. Aku berasal dari negeri Takrit, aku sengaja keluar, karena beberapa hari mendatang akan terjadi musibah di negeri Baghdad “. Kemudian ia menghilang ke dalam air. Kata Abu Saud: “Ternyata tidak lebih dari lima belas hari musibah memang terjadi.”
29. Di antaranya, ada pula yang termasuk Al afrad
. Mereka termasuk wali-wali berkedudukan tinggi. Di antara mereka adalah Syeikh Muhammad Al? Awani, sahabat karib Syeikh Abdul Qodir Al Jailani. Mereka ini jarang dikenal manusia publik, karena posisi mereka terlalu tinggi. Jumlah mereka tidak terbatas. Ada kalanya jumlah mereka meningkat dan ada kalanya pula berkurang.
30. Di antaranya, ada pula yang termasuk Al umana?
artinya orang-orang yang dapat diberikan kepercayaan. Di antara mereka adalah Abu Ubaidah Ibnul Jarrah, seperti yang disebutkan oleh Nabi saw: “Abu Ubaidah adalah orang yang paling dapat dipercaya di antara umat ini”. Jumlah mereka tidak terbatas. Mereka jarang dikenal manusia, karena mereka tidak pernah menonjol ditengah masyarakat.
31. Di antaranya, ada pula yang termasuk Al Qurra?
. Mereka anggota membaca Al Quran. Menurut sebuah hadis, wali-wali ini termasuk orang-orang yang dekat dengan Allah, karena mereka anggota Al Quran. Dan mereka harus dimuliakan. Syeikh Sahal Bin Abdullah At Tusturi termasuk diantara mereka.
32. Di antaranya, ada pula yang termasuk Al Ahbab
, yaitu orang-orang yang dikasihi. Jumlah mereka tidak terbatas, adakalanya meningkat, adakalanya pula berkurang. Mereka mencapai tingkatan ini disebabkan mereka melakukan segala ibadah dan takarrub karena cinta kepada Allah. Ibadah yang didasari cinta, lebih baik dari ibadah yang berharap pahala dan surga. Maka sebagai imbalan baik untuk mereka, mereka mendapat kasih sayang Allah yang luar biasa.
33. Di antaranya, ada pula yang termasuk Al Muhaddathun
, yaitu orang-orang yang selalu diberi ilham oleh Allah. Menurut hadits Nabi, ada sebagian dari umatku yang diberi ilham dari Allah. Maka Umar Bin Al Khattab termasuk salah satu dari mereka. Sayyid Muhyiddin Ibnu Arabi ra berkata: “Dizaman kami ada pula wali-wali Al Muhaddathun, di antaranya adalah Abul Abbas Al Khasyab dan Abu Zakariya Al Baha-i”.
Para wali yang tergolong dalam kaum ini senantiasa mendapat bisikan-bisikan rohani dari penduduk alam malakut, misalnya dari Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail, sebab rohani mereka sudah dapat menembus alam arwah atau alam malakut.
34. Di antaranya, ada pula yang termasuk Al Akhilla?
. Mereka adalah orang-orang yang dicintai Allah, sebab segala ibadah yang mereka lakukan selalu didasari cinta kepada Allah. Jumlah mereka tidak terbatas, adakalanya meningkat dan adakalanya berkurang.
35. Di antaranya, ada pula yang termasuk As Samra?
. Kata As Samra? adalah berkulit hitam manis. Jumlah mereka tidak terbatas. Mereka termasuk orang-orang yang senantiasa berdialog dengan Allah, sebab hati mereka selalu dipenuhi rasa ketuhanan yang tiada taranya.
36. Di antaranya, ada pula yang termasuk Al Wirathah,
yaitu mereka yang mendapat warisan dari Allah. Mereka adalah para ulama, pewaris para Nabi. Kelompok ini termasuk orang-orang yang gemar beribadah sampai melebihi dari batas kemampuannya. Mereka suka mengasingkan diri di tempat-tempat terpencil demi untuk memenuhi kecintaannya kepada Allah.
37 PANGKAT WALI ALLAH

1.Qutub Atau Ghauts (1 abad 1 Orang)

Al Aqtab berasal dari kata tunggal Al Qutub yang memiliki arti penghulu. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa Al Aqtab adalah pangkat kewalian yang tertinggi. Jumlah wali yang memiliki pangkat tersebut hanya terbatas seorang saja untuk setiap waktunya.
2. Aimmah (1 Abad 2 orang)

Al Aimmah berasal dari kata tunggal imam yang memiliki arti pemimpin. Setiap waktunya hanya ada dua orang saja yang dapat mencapai pangkat Al Aimmah. Keistimewaannya, ada di antara mereka yang pandangannya hanya tertuju ke alam malakut saja, ada pula yang pandangannya hanya tertuju di alam malaikat saja.
3. Autad (1 Abad 4 Orang di 4 penjuru Mata Angin)

Al Autad berasal dari kata tunggal Al Watad yang memiliki arti pasak. Yang memperoleh pangkat Al Autad hanya ada empat orang saja setiap waktunya. Mereka tinggal di utara, di timur, di barat dan di selatan bumi, mereka bagaikan penjaga di setiap pelosok bumi.
4. Abdal (1 Abad 7
Orang tidak akan bertambah & berkurang Bila ada wali Abdal yg Wafat Alloh menggantinya dengan mengangkat Wali abdal Yg Lain (Abdal = Pengganti) Wali Abdal juga ada yang Waliyahnya (Wanita).
Al Abdal berasal dari kata Badal yang memiliki arti menggantikan. Yang memperoleh pangkat Al Abdal itu hanya ada tujuh orang dalam setiap waktunya. Setiap wali Abdal ditugaskan oleh Allah untuk menjaga suatu wilayah di bumi ini. Dikatakan di bumi ini memiliki tujuh daerah. Setiap daerah dijaga oleh seorang wali Abdal. Jika wali Abdal itu meninggalkan tempatnya, maka ia akan digantikan oleh yang lain. Ada seorang yang bernama Abdul Majid Bin Salamah pernah bertanya pada seorang wali Abdal yang bernama Muaz Bin Asyrash, praktek apa yang dikerjakannya sampai ia menjadi wali Abdal? Jawab Mu’adz Bin Asyrash: “Para wali Abdal mendapatkan derajat tersebut dengan empat kebiasaan, yaitu sering lapar, gemar beribadah di malam hari, suka diam dan mengasingkan diri”.
5. Nuqoba ‘(Naqib) (1 Abad 12 orang
di wakilkan Alloh Masing2 pada setiap Bulan).
An Nuqaba ‘berasal dari kata tunggal Naqib yang memiliki arti kepala kaum. Jumlah wali Nuqaba ‘dalam setiap waktunya hanya ada dua belas orang. Wali Nuqaba ‘itu diberi karamah mengerti sedalam-dalamnya tentang hukum-hukum syariat. Dan mereka juga diberi pengetahuan tentang rahasia yang tersembunyi di hati seseorang. Selanjutnya mereka pun mampu untuk meramal tentang karakter dan nasib seorang melalui bekas jejak kaki seseorang yang ada di tanah. Sebenarnya hal ini tidaklah aneh. Kalau anggota jejak dari Mesir mampu mengungkap rahasia seorang setelah melihat bekas jejaknya. Apakah Allah tidak mampu membuka rahasia seseorang kepada seorang waliNya?
6. Nujaba ‘(1 Abad 8 Orang)

An Nujaba ‘berasal dari kata tunggal Najib yang memiliki arti bangsa yang mulia. Wali Nujaba ‘pada umumnya selalu disukai orang. Dimana saja mereka mendapatkan sambutan orang banyak. Kebanyakan para wali tingkatan ini tidak merasakan diri mereka adalah para wali Allah. Yang dapat mengetahui bahwa mereka adalah wali Allah hanyalah seorang wali yang lebih tinggi derajatnya. Setiap zaman jumlah mereka hanya tidak lebih dari delapan orang.
7. Hawariyyun (1 Abad 1 Orang)
Wali Hawariyyun di beri kelebihan Oleh Alloh dalam hal keberanian, Pedang (Zihad) di dalam menegakkan Agama Islam Di muka bumi. Al Hawariyun berasal dari kata tunggal Hawariy yang memiliki arti penolong. Jumlah wali Hawariy ini hanya ada satu orang saja di setiap zamannya. Jika seorang wali Hawariy meninggal, maka kedudukannya akan diganti orang lain. Di zaman Nabi hanya sahabat Zubair bin Awwam saja yang mendapatkan derajat wali Hawariy seperti yang dikatakan oleh Rasululloh: “Setiap Nabi memiliki Hawariy. Hawariyku adalah Zubair ibnul Awwam “. Meskipun pada waktu itu Nabi memiliki cukup banyak sahabat yang setia dan selalu berjuang di sisi beliau. Karena beliau tahu hanya Zubair saja yang meraih pangkat wali Hawariy. Kelebihan seorang wali Hawariy biasanya seorang yang berani dan pandai berhujjah.
8. Rojabiyyun (1 Abad 40 Orang
Yg tidak akan bertambah & Berkurang Bila ada salah satu Wali Rojabiyyun yg meninggal Alloh kembali mengangkat Wali rojabiyyun yg lainnya, Dan Alloh mengangkatnya menjadi wali Khusus di bulan Rajab dari Awal bulan sampai Akhir Bulan oleh karena itu Namanya Rojabiyyun. Ar Rajbiyun berasal dari kata tunggal Rajab. Wali Rajbiyun itu adanya hanya di bulan Rajab saja. Mulai awal Rajab hingga akhir bulan mereka itu ada. Selanjutnya kondisi mereka kembali normal seperti semula. Setiap waktu, jumlah mereka hanya ada empat puluh orang saja. Para wali Rajbiyun ini terbagi di berbagai wilayah. Di antara mereka ada yang saling mengenal dan ada yang tidak saling mengenal.
Pada umumnya, di bulan Rajab, sejak awal harinya, para wali Rajbiyun menderita sakit, sehingga mereka tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya. Selama bulan Rajab, mereka senantiasa mendapat berbagai pengetahuan secara kasyaf, kemudian mereka memberitahukannya kepada orang lain. Anehnya penderitaan mereka hanya bertahan di bulan Rajab. Setelah bulan Rajab berakhir, maka kesehatan mereka kembali seperti semula.
9. Khotam (penutup Wali)
(1 Alam dunia hanya 1 orang) Yaitu Isa AS ketika turun kembali ke dunia Alloh Diangkat menjadi Wali Khotam (Penutup).
Al Khatamiyun berasal dari kata Khatam yang memiliki arti penutup atau penghabisan. Maksudnya pangkat AlKhatamiyun adalah sebagai penutup para wali. Jumlah mereka hanya seorang. Tidak ada pangkat kewalian umat Muhammad yang lebih tinggi dari tingkatan ini. Jenis wali ini hanya akan ada di akhir masa, yaitu ketika Nabi Isa as.datang kembali.
10. Qolbu Adam A.S (1 Abad 300 orang)

11. Qolbu Nuh A.S (1 Abad 40 Orang)

12. Qolbu Ibrohim A.S (1 Abad 7 Orang)

13. Qolbu Jibril A.S (1 Abad 5 Orang)

14. Qolbu Mikail AS (1 Abad 3 Orang
tidak kurang dan tidak lebih Alloh selalu mengangkat wali lainnya Bila ada salah satu dari Wali qolbu Mikail Yg Wafat)
15.Qolbu Isrofil A.S (1 Abad 1 Orang)

16. Rizalul ‘Alamul Anfas (1 Abad 313 Orang)

17. Rizalul Ghoib (1 Abad 10 orang
tidak bertambah dan berkurang)
tiap2 Wali Rizalul Ghoib ada yg Wafat seketika juga Alloh mengangkat Wali Rizalul Ghoib Yg lain, Wali Rizalul Ghoib adalah Wali yang di sembunyikan oleh Alloh dari penglihatannya Makhluq2 Bumi dan Langit tiap2 wali Rizalul Ghoib tidak dapat mengetahui Wali Rizalul Ghoib yang lainnya, dan ada juga Wali dengan pangkat Rijalul Ghoib dari kaum Jin Mu’min, Semua Wali Rizalul Ghoib tidak mengambil sesuatu dari Rizqi Alam nyata ini tetapi mereka mengambil atau menggunakan Rizqi dari Alam Ghaib.
18. Adz-Dzohirun (1 Abad 18 orang)

19. Rizalul Quwwatul Ilahiyyah (1 Abad 8 Orang)

Di antaranya pula ada wali yang dikenal dengan nama Rijalul Quwwatul Ilahiyah artinya orang-orang yang diberi kekuatan oleh Tuhan. Jumlah mereka hanya delapan orang saja di setiap zaman. Wali jenis ini memiliki keistimewaan, yaitu sangat tegas terhadap orang-orang kafir dan terhadap orang-orang yang suka mengecilkan agama. Sedikit pun mereka tidak takut oleh kritikan orang. Di kota Fez ada seorang yang bernama Abu Abdullah Ad Daqqaq. Ia dikenal sebagai seorang wali dari jenis Rijalul Quwwatul Ilahiyah. Di antaranya pula ada jenis wali yang sifatnya keras dan tegas. Jumlah mereka hanya ada 5 orang disetiap zaman. Meskipun karakter mereka tegas, tetapi sikap mereka lemah lembut terhadap orang-orang yang suka berbuat kebajikan.
20. Khomsatur Rizal (1 Abad 5 orang)

21. Rizalul Hanan ( 1 Abad 15 Orang )

Ada jenis wali yang dikenal dengan nama Rijalul Hanani Wal Athfil Illahi artinya mereka yang diberi rasa kasih sayang Allah. Jumlah mereka hanya ada lima belas orang di setiap zamannya. Mereka selalu bersikap kasih sayang terhadap manusia baik terhadap yang kafir maupun yang mukmin. Mereka melihat manusia dengan pandangan kasih sayang, kerana hati mereka dipenuhi rasa insaniyah yang penuh rahmat.
22. Rizalul Haybati Wal Jalal ( 1 Abad 4 Orang )

23. Rizalul Fath ( 1 Abad 24 Orang )
Alloh mewakilkannya di tiap Sa’ah ( Jam ) Wali Rizalul Fath tersebar di seluruh Dunia 2 Orang di Yaman, 6 orang di Negara Barat, 4 orang di negara timur, dan sisanya di semua Jihat ( Arah Mata Angin )
23. Rizalul Ma’arijil ‘Ula ( 1 Abad 7 Orang )

24. Rizalut Tahtil Asfal ( 1 Abad 21 orang )

25. Rizalul Imdad ( 1 Abad 3 Orang )

Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalul Imdadil Ilahi Wal Kauni, yaitu mereka yang selalu mendapat kurniaan Ilahi. Jumlah mereka tidak lebih dari tiga orang di setiap abad. Mereka selalu mendapat pertolongan Allah untuk menolong manusia sesamanya. Sikap mereka dikenal lemah lembut dan berhati penyayang. Mereka senantiasa menyalurkan anugerah-anugerah Allah kepada manusia. Adanya mereka menunjukkan berpanjangannya kasih sayang Allah kepada makhlukNya.
26. Ilahiyyun Ruhamaniyyun ( 1 Abad 3 Orang )
Pangkat ini menyerupai Pangkatnya Wali Abdal
Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Ilahiyun Rahmaniyyun, yaitu manusia-manusia yang diberi rasa kasih sayang yang luar biasa. Jumlah mereka ini hanya tiga orang di setiap masa. Sifat mereka seperti wali-wali Abdal, meskipun mereka tidak termasuk didalamnya. Kegemaran mereka suka mengkaji firman-firman Allah.
27. Rozulun Wahidun ( 1 Abad 1 Orang )

28. Rozulun Wahidun Markabun Mumtaz ( 1 Abad 1 Orang )

Wali dengan Maqom Rozulun Wahidun Markab ini di lahirkan antara Manusia dan Golongan Ruhanny( Bukan Murni Manusia ), Beliau tidak mengetahui Siapa Ayahnya dari golongan Manusia , Wali dengan Pangkat ini Tubuhnya terdiri dari 2 jenis yg berbeda, Pangkat Wali ini ada juga yang menyebut ” Rozulun Barzakh ” Ibunya Dari Wali Pangkat ini dari Golongan Ruhanny Air INNALLOHA ‘ALA KULLI SAY IN QODIRUN ” Sesungguhnya Alloh S.W.T atas segala sesuatu Kuasa.
29. Syakhsun Ghorib ( di dunia hanya ada 1 orang )

30. Saqit Arofrof Ibni Saqitil ‘Arsy ( 1 Abad 1 Orang )

31. Rizalul Ghina ( 1 Abad 2 Orang )

sesuai Nama Maqomnya ( Pangkatnya ) Rizalul Ghina ” Wali ini Sangat kaya baik kaya Ilmu Agama, Kaya Ma’rifatnya kepada Alloh maupun Kaya Harta yg di jalankan di jalan Alloh, Pangkat Wali ini juga ada Waliahnya ( Wanita ).
31. Syakhsun Wahidun ( 1 Abad 1 Orang )

32. Rizalun Ainit Tahkimi waz Zawaid ( 1 Abad 10 Orang )

33. Budala’ ( 1 Abad 12 orang )

Budala’ Jama’ nya ( Jama’ Sigoh Muntahal Jumu’) dari Abdal tapi bukan Pangkat Wali Abdal
34. Rizalul Istiyaq ( 1 Abad 5 Orang )

35. Sittata Anfas ( 1 Abad 6 Orang )

salah satu wali dari pangkat ini adalah Putranya Raja Harun Ar-Royid yaitu Syeikh Al-’Alim Al-’Allamah Ahmad As-Sibty
36. Rizalul Ma’ ( 1 Abad 124 Orang )

Wali dengan Pangkat Ini beribadahnya di dalam Air di riwayatkan oleh Syeikh Abi Su’ud Ibni Syabil ” Pada suatu ketika aku berada di pinggir sungai tikrit di Bagdad dan aku termenung dan terbersit dalam hatiku “Apakah ada hamba2 Alloh yang beribadah di sungai2 atau di Lautan” Belum sampai perkataan hatiku tiba2 dari dalam sungai muncullah seseorang yang berkata “akulah salah satu hamba Alloh yang di tugaskan untuk beribadah di dalam Air”, Maka akupun mengucapkan salam padanya lalu Dia pun membalas salam aku tiba2 orang tersebut hilang dari pandanganku.
37. Dakhilul Hizab ( 1 Abad 4 Orang )

Wali dengan Pangkat Dakhilul Hizab sesuai nama Pangkatnya , Wali ini tidak dapat di ketahui Kewaliannya oleh para wali yg lain sekalipun sekelas Qutbil Aqtob Seperti Syeikh Abdul Qodir Jailani, Karena Wali ini ada di dalam Hizab nya Alloh, Namanya tidak tertera di Lauhil Mahfudz sebagai barisan para Aulia, Namun Nur Ilahiyyahnya dapat terlihat oleh para Aulia Seperti di riwayatkan dalam kitab Nitajul Arwah bahwa suatu ketika Syeikh Abdul Qodir Jailani Melaksanakan Towaf di Baitulloh Mekkah Mukarromah tiba2 Syeikh melihat seorang wanita dengan Nur Ilahiyyahnya yang begitu terang benderang sehingga Syeikh Abdul qodir Al-Jailani Mukasyafah ke Lauhil Mahfudz dilihat di lauhil mahfudz nama Wanita ini tidak ada di barisan para Wali2 Alloh, Lalu Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani bermunajat kepada Alloh untuk mengetahui siapa Wanita ini dan apa yang menjadi Amalnya sehingga Nur Ilahiyyahnya terpancar begitu dahsyat , Kemudian Alloh memerintahkan Malaikat Jibril A.S untuk memberitahukan kepada Syeikh bahwa wanita tersebut adalah seorang Waliyyah dengan Maqom/ Pangkat Dakhilul Hizab ” Berada di Dalam Hizabnya Alloh “, Kisah ini mengisyaratkan kepada kita semua agar senantiasa Ber Husnudzon ( Berbaik Sangka ) kepada semua Makhluq nya Alloh, Sebetulnya Masih ada lagi Maqom2 Para Aulia yang tidak diketahui oleh kita, Karena Alloh S.W.T menurunkan para Aulia di bumi ini dalam 1 Abad 124000 Orang, yang mempunyai tugasnya Masing2 sesuai Pangkatnya atau Maqomnya.
Firman Allah dalam Surat Al-Imron ayat 169:
“LA TAHSABANNAL LADZI QUTILUU FI SABILILLAHI AMWATAN, BAL AHYAUN INDA ROBBIHIM YURZAQUNA ”
Terjemahnya sebagai berikut:
“Janganlah kamu mengira bahwa orang2 yang gugur di jalan Alloh itu ‘MATI’ bahkan mereka itu ‘HIDUP’ di sisi tuhannya dengan mendapat rezqi”.
HIDUP Yaitu hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, di mana mereka mendapat keni’matan2 di sisi Alloh, Dan hanya Alloh sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan HIDUP nya itu.
JUMLAH WALI MENURUT SYEKH MAHYUDDIN IBNU ARABI
Menurut Syekh Mahyuddin Ibnu Arabi jumlah dan jenis kewalian ([1]) itu berjumlah 589 jenis kewalian. Sebagaimana keterangannya berikut ini;
المجموع من الأوليآء الذين ذكرنا أعدادهم فى أول هذا الباب ومبلغ ذلك خمسمائة نفس وتسعة وثمانون نفسا ( 589) منهم واحد لايكون فى كل زمان وهو الختم المحمدى وما بقى فهم فى كل زمان لاينقصون ولا يزيدون . وأما الختم فهذا زمانه وقد رأيناه وعرفناه تمم الله سعادته علمته بفاس سنة خمس وتسعين وخمسمائة (595) ([2])
Artinya;
Keseluruhan dari wali-wali Allah yang kami sebutkan jumlahnya pada awal bab mencapai 589 jenis. Satu diantara mereka yang tidak pada setiap zaman, yaitu AL KHATMUL MUHAMMADY. Dan adapun selebihnya mereka itu ada disetiap masa tidak berkurang dan tidak bertambah.
Maka adapun wali al Khatmi itu maka sekaranglah zamannya. Dan sesungguhnya kami telah mengenalnya (maka) Allah sempurnakanlah akan kebahagiaannya, aku mengenalnya dinegeri Fas pada tahun 595 H .
Syekh Mahyuddin Ibnu Arabi dalam karya besarnya (Futuhatul Makiah)
menyebutkan jumlah / jenis kewalian itu mencapai 589 jenis kewalian. Dari jumlah tersebut, yang termasuk dalam kategori wali terbesar adalah;
1. Wali Quthub,

2. Al-Aimmah,
3. Al-Autad,
4. Al-Abdal, Wali-wali yang memegang wilayah
5. An-Nuqaba,
6. An-Nujaba,
7. Al-Umana,
8. Al-Hawariyyun,
9. Ar-Rajabiyyun,
10. Rijalul-Ghaib
11. Rijalul-fath,
12. Rijalul- ‘Ula,
13. Rijalul-Imdad,
14. Rijalul-Ma,
15. Rahmaniyyun,
16. Az-Zuhhad,
17. Al-Qurra,
18. Al-Ahbab,
19. Al-Muhaddatsun,
20. Al-Akhilla,
21. As-Samra,
22. Al-Waratsah,
23. Dan lain-lain
Kesemua wali-wali tersebut di atas dijelaskan dengan rinci oleh Syekh Yusuf An-Nabhany dalam kitabnya yang berjudul;
(جامع كرمات الأوليآء)
yang materi pembicaraannya khusus mengenai para wali-wali dan segala macam jenis-jenisnya. Dari sekian banyak jumlah wali-wali tersebut diatas, ada satu wali yang tidak bertambah, yaitu (jenis) wali Khatmul Muhammady (Wali Khatmi). Syekh Mahyuddin Ibnu Arabi mengaku sudah mengetahui tanda-tanda Wali Khatmi ini sebagaimana pengakuannya berikut ini;
ورأيت العلامة التى له قد أخفاها الحق فيه عن عيون عباده وكشفها الى بمدينة فاس حتى رأيت خاتم الولاية منه ([3])
Dan aku melihat tanda-tanda yang Allah sembunyikan pada dirinya dari pandangan (kasyaf) kebanyakan hamba-hamba-Nya, dan Allah berkenan membukakan (tabir ini) kepadaku dikota Fes Maroko sehingga aku melihat akan pangkat kewalian itu dari dirinya”.
Dalam pengakuannya tersebut, Syekh Mahyuddin Ibnu Arabi telah di bukakan oleh Allah tabir hijab (sewaktu di kota Fez Maroko) sehingga dia mengetahui akan figure dan tanda-tanda dari Khatmul Aulia itu yang tidak di ketahui oleh kebanyakan dari hamba-hamba Allah lainnya.
Kita patut bersyukur kepada Allah karena Dia telah memilih di antara sekian banyak hamba-Nya yang dianugerahi kasyaf seperti yang terjadi pada pribadi Ibnu Arabi sehingga dengan perantaraan (karangan)nya jualah kita dapat mengetahui akan gambaran Khatmul Aulia itu sebagaimana tersebut diatas.Insya Allah bermanfaat .Ajengan Papandayan Dan Sableng Pabalatak

Allah: Cahaya-Nya, Mahasuci-Nya, Rahasia-Nya



Allah: Cahaya-Nya, Mahasuci-Nya, Rahasia-Nya
Allah-and-Muhammad-in-Arabic--muxlimos-lair


Assalammu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
"Amantu bi Rasul wa bimaa qaala Rasuli".
Aku beriman kepada Rasul dan dengan apa yang disabdakannya.



"Awwalu wa khalaqallahu Nuuri Nabiyika, yaa Jabiir. Fa khalaqa minhul asy ya-a"

Yang mula-mula sekali dijadikan Allah ialah cahaya nabimu, ya Jabir. Dijadikan daripadanya itu segala isi alam.


Berkata lagi Rasulullah Saw. pada Jabir: 

"Termasuklah diri kamu pun dari segala isi alam itu."


Dan Rasulullah Saw. bersabda lagi:
ﺍﻧﺎ ﻣﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﻣﺆﻣﻨﻭﻥ ﻣﻨﯥ

"Aku dari Allah dan sekalian mukmin dariku."

Firman Allah Swt. dalam hadis qudsiy:
"Innallaaha khalaqa ruuhi nabiyyika shalallaahu `alaihi wasallam min dzaatihi"

"Sesungguh-Nya Allah menciptakan ruh Muhammad Saw. itu dari Zat-Nya."


Allah Swt. juga menegaskan dalam hadis qudsiy lainnya:

"Lau laka laa maa khalaktul aflaka."
Jika bukan karena engkau (Muhammad), tidak Kuciptakan alam semesta ini.

      Allah dan Cahaya-Nya
Dari Cahaya Nabi ini jadi apa? Cahaya inilah yang dikatakan Nur Ilahi. Ada juga yang menyatakan ini Cahaya Allah. Jadi, yang disebut Nuur ialah Nama bagi Cahaya Tuhan. Cahaya Tuhan itu tidak pernah rusak dan tidak binasa. Ingat, Cahaya Tuhan itu bukan Tuhan. Jangan Tuhan dirupakan sebagai Cahaya.

Terdahulu Tuhan itu mentajallikan Cahaya Diri-Nya. Cahaya Diri-Nya inilah yang diakatan
`alaa bikulli syai`in muhiith (meliputi segala sesuatu). Jelas sekali Cahaya Tuhan itu tubuhnya sekalian alam atau lembaga sekalian alam. Cahaya inilah tubuh maharuang. Inilah zat mutlak, yaitu satu zat yang tiada berwujud: tidak berbentuk, tidak bertempat; ujungnya tidak ada kesudahan, demikian juga pangkalnya. Bahkan munculnya pun tidak diketahui. Ini yang dikatakan satu zat yang tidak berwujud.

Kalau di Quran Surat Nuur, Cahaya Allah itu tembus menembus. Zat-zat dan cahaya-cahaya pun ditembusnya, tetapi Cahaya Tuhan ini tidak bisa ditembus sesuatu apa pun.



K
alau sudah tahu Cahaya Tuhan itu meliputi sekalian alam, tentulah yang ada pada sekalian alam ini diliputi Cahaya (wa zulumati ila Nur). Cahaya inilah Nuurun `ala nuurin, Cahaya di atas cahaya. Tentulah Cahaya Tuhan yang tertinggi.

Cahaya Tuhan ini lebih terang daripada cahaya matahari dan lebih dahsyat daripada api neraka. Tentulah tidak akan ada kehidupan di dunia dan takkan ada segala sesuatu apa pun. Agar terjadi proses-proses alam dan segala sesuatu yang hidup, Allah tabir Cahaya-Nya itu dengan Nur Muhammad. Dari Nur Muhammad ini barulah bisa terjadi segala macam proses kejadian (di alam semesta). Kalau Cahaya Tuhan saja (tanpa ditabiri dengan Nur Muhammad), Bukit Thursina pun hancur jadi debu. Demikian dengan selainnya, pasti hancur juga.


Maka dengan Rahman Allah agar alam ini ada kehidupan dan ada proses, diadakankah Nur Muhammad yang dapat menabiri kehidupan dari Cahaya-Nya. Inilah sebabnya Allah berfirman, "Jika bukan karena engkau (Muhammad), tidak Kuciptakan alam semesta ini."

Buka juga Q.S. Fushilat:54

أَلَآ إِنَّہُمۡ فِى مِرۡيَةٍ۬ مِّن لِّقَآءِ رَبِّهِمۡ‌ۗ أَلَآ إِنَّهُ ۥ بِكُلِّ شَىۡءٍ۬ مُّحِيطُۢ

Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.

Orang yang dalam keragu-raguan itu orang yang belum kenal. Kalau orang yang sudah kenal, tidak ada keraguan lagi tentang Tuhan.


I
nilah tugas yang berat bagi Rasulullah, yaitu mengenalkan manusia kepada Tuhan. Kalau sudah kenal, sembahlah yang kaukenal itu. Bagaimana kita bisa menyembah, sedangkan yang kita sembah tidak kita kenali? Bisa saja timbul rekayasa berupa patung, bulan, bintang, berupa wasilah, dan lain-lain.

Allah dan Mahasuci-Nya
 Sekalian alam, semua itu Mahasucinya Allah. Kalau Allah Mahasuci, alam itu pun mahasuci juga. Mahasucinya Allah itu, berupa zat wajiba alwujud (zat yang wajib Ada). Inilah wujud Qadim dan wujud muhaddas (baharu), artinya, wujud yang boleh ada, boleh di-ada-kan, boleh juga tidak di-ada-kan.

Wujud muhaddas ini terdiri atas empat:

1. JirimSesuatu yang berbentuk: dapat dlihat dan diraba dengan pancaindera.
Seperti diri manusia, binatang, tumbuhan, dan benda-benda lainnya.
2. JisimSesuatu yang tidak dapat dilihat dan tidak dapat diraba dengan pancaindera,  Seperti angin, bebauan, iblis, jin, setan <= jisim latif  
3. JawharSesuatu yang berbentuk cahaya-cahaya. Malaikat termasuk golongan ini.
4.`AradSekalian sifat-sifat makhluk (baharu), seperti tinggi, rendah, putih, legam, keras, lunak, kasar, dsb.

Allah tidak berupa jirim, jisim, jawhar, dan `arad ini. Kalau ada yang mempersamakan-Nya dengan jirim, jisim, jawhar, dan `arad, kemudian meyakininya, kafirlah dia!
Muakal-muakal, khodam-khodam, dan sebagainya itu, itu semua jin! Makhluk jisim.
Allah mengingatkan iblis, setan, jin itu sesungguhnya musuh-musuh kamu. Jauhilah! Mengapa ada manusia yang mau memberi sesajen ini-itu, bahkan ada yang mau berdatukkan para jin. Nauzubillah! Enyahkanlah perbuatan yang membawa kepada kesesatan.

  • Lihat kasus lumpur Lapindo itu, berapa kepala kerbau dilemparkan dan berapa banyak sesajen lainnya dipersembahkan, mengapa tidak surut juga?
  • Lihatlah batu (Gunung Merapi) disembah Mbah Maridjan diberi sesajen ini itu, kenapa masih meletup juga?

Sadarlah! Manusia itu laqad khalaqnal insaana fi ahsani taqwim. Manusia itu makhluk yang seindah-indah kejadian. Mengapa manusia mau menjatuhkan derajatnya di bawah Iblis, jin, setan?!! 

Allah dan Rahasia-Nya

Maharuang itu zat mutlak atau Cahaya Ilahi. Zat mutlak ini Rahasia Tuhan. Rasahsia Tuhan inilah Roh Qudus yang ada di sama-tengah hati atau di dalam syiir. Inilah wa fi anfusikum (Aku ada di dalam diri kamu). Yang berkuasa atas segala diri manusia.

Kalau Rahasia Tuhan (Roh Qudus) ini keluar dari jasad, ditinggalkannya jasad, binasalah jasad. Kalau dia keluar, lalu lari dari jasad, binasa juga jasad.


Kalau dia keluar dari jasad, memecahkan dirinya lalu satu dengan jasad, selamatlah jasad. Hiduplah sampai
yaumil qiyamah. Tubuh ini tidak pandai tua. Makanya di akhirat itu tidak ada yang tua. Muda semuanya.

D
alam permasalahan mati, tidak perlu lagi kita mau pakai tanda-tanda, mau berseri-seri, mau tau hari dan jam-jamnya, semua itu tidak bisa dipakai (sebagai patokan). Yang penting kita ketahui: biar mati sekalipun, jasad dan ruh qudus tidak bercerai. Kalau becerai, binasa jasad. Hidup (di dunia) saja kalau jasad becerai dengan ruh, binasa jasad. Apalagi setelah mati nanti. Binasa juga jasad.

Maka perlu diketahui, Diri Tuhan yang dijadikan itulah induknya sekalian yang bernyawa. Itulah Cahaya di atas cahaya. Cahaya Tuhan yang paling tinggi. Di sinilah yang paling nikmat senikmat-nikmatnya. Tidak ada sesuatu lagi. Yang ada
zawq saja. Nikmat senikmat-nikmatnya. Inilah la bi harfin wa laa syautin (tidak berhuruf, tidak bersuara). Tidak ada ilmu yang bisa menafsirkan nikmat ini.

Bagi orang tauhid yang hakiki, yang dikatakan Allah itu nikmat senikmat-nikmatnya. Diistilahkan Allah itu Surga.

Kita, Zat Asam, dan Zat Mutlak

Kita ini sudah dilindungi zat asam. Ingat uraian di atas, zat asam ini jadadnya Muhammad. Berarti kita ini sudah bersama-sama dengan zat asam. Dan zat asam sudah bersama zat mutlak.

Mengapa kita tidak bisa bertemu? Sedangkan zat mutlak selalu bersama-sama zat asam. Dan kita bersama zat asam. Suatu yang mustahil kalau tidak bisa bertemu. Hanya bagi orang yang punya pandangan dan pemikiran.


Yang namanya mahaesa itu tidak becerai. Yang dikatakan tidak bercerai ini satu. Tidak mengenal dua. Kalau diri kita bukan Diri Tuhan, becerailah. Nerakalah tempatnya. Pahami yang dikatakan Mahaesa itu. Mahaesa itu satu, tidak becerai.


Tuhan diriku
. Tuhan diriku ini yang mana? Rahasia Tuhan yang ada di sama-tengah hati (pusat), itulah Diri Tuhan.

Segala ilmu sudah Aku hidayahkan kepada nabi-nabi, rasul-rasul, wali-wali, arif billah: hamba-hamba-Ku yang saleh. Ambillah Diri Aku itu! Bersama Aku-lah kamu.

Maka kata para muwwahid, Diri Tuhan jugalah yang bisa sampai ke Tuhan. Beginilah adanya cerita/pengetahuan dalam tauhid.

Jalan pengenalan pada Tuhan itu: zat semata-mata. Ini sebabnya mengenal Tuhan itu mudah. Lebih sulit itu mengenali wali Allah.
Rasulullah saw bersabda:
‘ U’budulla-ha ka an naka tara-hu fa in lam takun tara-hu fa innahu yara-ka.

"Sembahlah Allah seakan –akan kamu melihat-Nya, dan apabila kamu tidak bisa melihat-Nya, maka yakinkanlah bahwa Allah melihat kamu."

Ketika kamu beribadah, pandanglah Allah itu. Sekarang waktu kamu salat, waktukamu bertakbir, siapa Allah itu? Maka pentinglah mengesakan diri. Bukan Ruhani saja mahaesa, jasad musti mahaesa juga. Oleh sebab itu, jasad ini perlu dimahaesakan.
Kalau jasad tidak dapat mengesakan, ruhani akan menuntut.
Sebab badan yang mengandung nyawa, bukan ruhani yang mengandung tubuh.

- Syaikh Siradj -

Catatan:
Ada kalangan ulama yang menyatakan ini hadis munkar, bahkan menyatakannya sebagai dalil sesat. Sungguh, jika Allah mengizinkan, suatu hari kami akan menunjukkan betapa mereka sekalian telah ter-yahudi-kan secara perlahan sehingga tanpa sadar telah bermata satu dalam beriman Islam.

Mohon maaf jika ada yang tersinggung dengan catatan ini. Sesungguhnya, nasihat tauhid itu tegas.




Sebagai muslim akhir zaman, wajar jika kita lebih dulu mengenal salat sebelum mengenal Allah. Padahal umat masa awal dibimbing Rasulullah Saw. untuk mengenal Allah dulu baru kemudian mengenal ibadah syariat. Muxlimo's Lair mengajak umat menggenapkan pondasi akidah yang awal: ilmu tauhid. Mengenal Yang Disembah sebelum melakukan penyembahan, inilah sebenar-benar Islam. Mari membersihkan iman, akhlak, dan amal dari kesyirikan yang mungkin masih terselip dalam peribadatan kepada Allah Swt. InsyaAllah. Aamiin Ya Rabb al-alamiin

Artikel Allah: Cahaya-Nya, Mahasuci-Nya, Rahasia-Nya ini ditulis dari ♥ dengan harapan sampai juga ke ♥. Semoga Allah mudahkan penulis dan pembaca semua mengamalkan kebaikan di dalamnya; semoga Allah lindungi penulis dan pembaca semua dari keburukan di dalamnya. Aamiin. Jangan sungkan memberikan tanggapan Sobat untuk tulisan bertajuk Allah: Cahaya-Nya, Mahasuci-Nya, Rahasia-Nya ini. Bila berkenan, sebarkanlah via fasilitas share di bawah. Terimakasih

Iblis, Setan Paling Purba,

Iblis, Setan Paling Purba, 

dan Orang Kebatinan Paling Sakti Takut Anda Membaca Tulisan Ini.

Iblis+Setan+Paling+Purba+dan+Orang+Kebatinan+Paling+Sakti+Takut+Anda+Membaca+Tulisan+Ini
Gustave-Doré's illustration to the Divine-Comedy
   Assalammu'alaikum wrrahmatullahi wabarakatuh.Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya yang bertajuk Tauhid Islam Tidak Mengajarkan Pengesaan Tuhan dan Dua Hal Utama yang Dilalaikan Ulama. Mudah-mudahan, jika Allah menghendaki, setelah ini baru kita melangkah ke bahasan yang pernah dijanjikan pada tulisan terdahulu, Ketahuilah tentang Ruh Qudus.Hal-hal yang tertulis di bawah ini mungkin akan membuat Sobat terbelalak. Sungguh, saya sendiri tak menyangka bahwa akhirnya tulisan ini boleh dijadikan konsumsi publik. Bukan karena isinya berupa kekeramatan, melainkan karena isi tulisan ini wajib dibaca dengan pemahaman, bukan dengan salah paham. Sedangkan kebanyakan orang sering memulainya dengan salah paham. 
Bagaimana agar tidak terjadi salah paham mencerap tulisan ini? Jika boleh saya memberi saran: bacalah tanpa mengandalkan kecerdasan diri, bacalah dengan santai, sucikan hati dan pikiran dari prasangka, dan jangan memaksakan diri. Biarkan akal ruhani (iman) yang berlaku. Biarlah Allah Swt. yang membuat kita paham atau tidak paham, bukan diri kita. InsyaAllah, apa pun hasilnya, berarti itu yang semestinya terjadi.

Apa yang akan Sobat baca adalah Pusaka Madinah: diturunkan dari Nabi Muhammad Rasulullah Saw. melalui jalur khawasul khawas. Karena sudah diamanahkan, maka wajib bagi saya untuk menyampaikannya. Dengan bismillaahirrahmaanirraahhiim saya mulai: 
 
Sifat Nafsiyah 
Allah sudah menyatakan kelakuan-Nya dan perbuatan-Nya (Af'al-Nya) yang berwujud segala ciptaan-Nya kepada manusia. Kita melihat ciptaan Allah, itu artinya Allah memperlihatkan kelakuan-Nya dan perbuatan-Nya. Berarti Allah menyatakan hal-hal keadaan Diri-Nya yang bersifat Nafsiyah, Salbiyah, Ma`ani, dan Ma'nawiyah. Hanya orang-orang tauhid dan ulama besar masa lalu yang tahu benar soal ini.
Allah menunjukkan kepada hamba-Nya karena Allah Ta'ala ini Esa Zat-Nya, Esa Sifat-Nya, Esa Asma-Nya, dan Esa Af'al-Nya. Tahulah kita asalnya Allah Ta'ala itu Esa Zat-Sifat-Asma-Af`al-Nya.
Sifat Nafsiyah menjelaskan Zat Allah itu ada selama-lamanya dan adanya Zat Allah itu tidak disebabkan oleh suatu sebab.

Jelaslah Zat itu di-ada-kan Allah. Allah sendiri tanpa sebab apa pun. Jadi, ada juga yang di-ada-kan Allah dengan sebab, tetapi Zat Allah itu di-ada-kan Allah dengan sendiri-nya tanpa sebab dan ada selama-lamanya. Kekal tidak rusak-binasa. Inilah pengertian Sifat Nafsiyah, yaitu menerangkan tentang Diri Zat.


Tentang Diri Allah sendiri, tidak ber-Zat, tidak ber-Sifat, tidak ber-Asma, tidak ber-Af'al. Selain dari Diri Allah Pribadi ber-zat, ber-sifat, ber-asma, ber-af'al.


Maka dalam beramal ibadah:

"Jangan kausembah Zat-Ku, Sifat-Ku, Asma-Ku, Af'al-Ku, tetapi sembahlah Aku." (Hadis Qudsi)

Tubuh Mahasuci

Allah itu tubuh alam. Bagaimana Tubuh Allah itu? Wajib Mahasuci. Bersih sebersih-bersihnya: tidak berwarna, tidak berbau, tidak berbentuk, tidak bertempat, bukan terang, bukan gelap, bukan kabut, bukan mendung, bukan seperti batas pandang, tetapi Tubuh Allah itu Mahasuci: tiada seumpamanya. Ini yang perlu kita ketahui.

Tubuh Allah itu meliputi sekalian alam. Alam apa saja. Bukan alam yang meliputi Tubuh Allah, melainkan Tubuh Allah meliputi sekalian alam.


Sewaktu tubuh alam saja yang ada, tentulah belum ada sesuatu. Sewaktu Tuhan saja Ada, tentulah belum ada tubuh alam atau tubuh maharuang. Inilah diistilahkan kosong sekosong-kosongnya. Ruang tidak ada, bahkan kosong pun tidak ada.

Di kosong sekosong-kosongnya sudah tetap ADA. Yang sudah tetap ADA jangan dikata lagi. Naik saksilah kamu (syahadat).

Sebenarnya tubuh alam atau maharuang adalah
min nuurihi Nabiyika; Cahaya Nabi; Nur Muhammad dari Nur Ilahi. {ada pertentangan soal ini, silakan klik tautan berikut menuju catatan kaki} Cahaya Tuhan ini tidak bisa ditembus oleh sesuatu apa pun, tetapi Cahaya Tuhan dapat menembus segala sesuatu. Zat dan cahaya-cahaya pun ditembus-Nya.

Tuhan terlindung oleh Cahaya-Nya. Bukan
berlindung, melainkan terlindung. Cahaya Tuhan itu Mahasuci; bersih sebersih-bersihnya. Mengapa manusia banyak yang tidak tahu? Masih ragu akan perjumpaan dengan Tuhannya.
أَلَآ إِنَّہُمۡ فِى مِرۡيَةٍ۬ مِّن لِّقَآءِ رَبِّهِمۡ‌ۗ أَلَآ إِنَّهُ ۥ بِكُلِّ شَىۡءٍ۬ مُّحِيطُۢ
Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu. (Q.S. Fushilat: 54)
 
Maka dalam hidup ini hendaklah kita sadar sesadar-sadarnya bahwa keber-ada-an kita ini di dalam Tubuh Mahasuci dan bertubuhkan Mahasuci. Kalau kesadaran ini men-"jadi", segala alam apa saja yang ada di Tubuh Mahasuci akan kelihatan.

Sahabat Anas bin Malik meriwayatkan suatu ketika Rasulullah SAW sedang berjalan-jalan. Beliau bertemu dengan seorang sahabat Anshar bernama Haritsah. 
Rasulullah SAW bertanya: "
Bagaimana keadaanmu ya Haritsah?
Haritsah menjawab, "Hamba sekarang benar-benar menjadi seorang mukmin billah". 

Rasulullah SAW menjawab: "Yaa Haritsah, pikirkanlah dahulu apa yang engkau ucapkan itu, setiap ucapan itu harus dibuktikan!"

Haritsah menjawab : "Ya Rasulullah, hawa nafsu telah menyingkir, kalau malam tiba hamba berjaga untuk beribadah kepada Allah dan di waktu siang hamba berpuasa.... Sekarang ini hamba dapat melihat Arsy Allah tampak dengan jelas di depan hamba... Hamba dapat melihat orang di surga saling kunjung mengunjungi, Hamba dapat melihat orang di neraka berteriak-teriak..."

Maka Rasulullah Saw. berkata, "Engkau menjadi orang yang imannya dinyatakan dengan terang oleh Allah SWT di qolbimu".



Sabda Rasulullah Saw.:

…takutlah kamu akan firasat orang-orang mukmin, sebab mereka memandang dengan cahaya Allah…


Bukan ilmu yang men-"jadi", tapi kesadaran yang men-"jadi". Kalau ilmu saja, belum tentu dapat melihat sekalian alam (alam barzakh, alam akhirat, alam para nabi, dll). Akan tetapi, kalau kesadaran kita betul-betul sadar dan tidak ada keraguan lagi bahwa kita bertubuhkan Mahasuci dan berada di dalam Mahasuci--kalau kesadaran ini men-"jadi"--Anda akan merasakan sendiri kebenarannya.

Jadi, penting sekali kesadaran itu dijaga siang-malam, di mana saja berada. InysaAllah tidak akan ada ilmu apa pun yang bisa menembus Anda. Karena Anda sudah bertubuh Mahasuci atau bertubuhkan zat mutlak. Jangan Anda saja yang ada di dalam Mahasuci, bawa semua anak-istri-sanak-keluarga Anda. InsyaAllah terhindarkan dari gangguan-gangguan yang bersifat kesetanan.

Begitu juga ketika Anda menghadapi siapa saja. Sadari Mahasuci tubuh Anda, di dalam Mahasuci Anda berada. Bacalah syahadat. Sudah itu diam sediam-diamnya. Jangan baca ini-itu. Jangan ada zikir-zikir lagi karena Tuhan bukan berupa baca-baca dan zikir-zikir. 

Kalau mau bukti, silakan pakai untuk menghadapi orang-orang kebatinan, kanuragan, dan orang-orang "sakti" lainnya. Atau pakai ketika berada di tempat yang terkenal angker. Tak usah pakai baca-baca. Cukup dengan kesadaran dan diam saja.


Tentang Diam

Apa yang dimaksud dengan diam?
Yang dikatakan diam itu: tidak ada sesuatu lagi, hanya Tuhan saja ADA. Tidak ada dipikir-pikir, dirasa-rasa. Inilah pengertian diam sediam-diamnya. Artinya Tuhan saja ADA. [Laysa kamitslihi syai'un saja yang ADA.]
Di sinilah kita menyatukan pikiran dan perasaan. Bagaimana cara menyatukan pikiran dan perasaan? Diamkan pusat (sama-tengah-hati). Mendiamkan pusat itu bukan ditarik ke dalam atau dinaik-naikkan. 

Jika sudah mempraktikan ini, silakan beritahu saya bagaimana rasanya. Kalau sudah mempraktikkan ini, tidak perlu lagi mengonsumsi obat-obat penenang dan sebagainya.
Agama Itu Bukan Kebatinan 
Tasawuf itu kebatinan. Baru sampai sir saja (sampai ke batin), sedangkan tauhid hakiki itu sampai ke yang ada di dalam sir itu. Sampai ke wa fi sirri Ana.

Ketahuilah, agama itu bukan kebatinan. Agama itu mengandung kejasmanian, kenuranian, keruhanian, dan kerabbanian.

Kebatinan itu masih mempergunakan tekanan alam: untuk ini-untuk itu. Sedangkan, keruhanian adalah tekanan ketuhanan. Itulah sebabnya kebatinan tidak bisa melawan tekanan ketuhanan.

Lihatlah benda-benda angkasa itu. Berapa milyar ton beratnya. Mengapa tidak berguguran menabrak Bumi atau saling menabrak di antara mereka sendiri? Sedangkan gaya tarik (gravitasi) saja masih bisa ditembus. Orang tauhid bilang karena ada tekanan ketuhanan. Tekanan ketuhanan ini tekanan zat mutlak.


Ingat postulat Einstein:

"Segala sesuatu di jagat raya ini bergerak, hanya satu yang diam."
[Tetapi  Einstein pun tidak bisa menyebutkan apa yang diam itu.]

Kelebihan zat asam (
ether) mati, kekurangan zat asam mati. Coba kalau bertubuhkan zat mutlak, tidak akan mati. Buktinya: di akhirat nanti, mengapa kita tidak pandai mati? Karena di akhirat kelak kita hidup dengan zat mutlak.

Rasulullah Saw. bermikraj bisa sampai ke mana saja. Hidup terus. Tidak bawa zat asam karena beliau sudah hidup dengan zat mutlak.



pancaran-budduhun

Tentang Budduhun

Manusia banyak tidak menyadari bahwa pada setiap dahi manusia itu ada mahkotanya. Mahkota itulah Nur Illahi (Cahaya Tuhan). Biasa ulama lama mengatakan."Ada budduhun-nya."

Maka untuk perisai keselamatan dunia-akhirat diri kita, pakailah:
"Tuhan tubuhku. Ya Budduhun."

(Jangan terbalik! Jangan salah paham. Bukan tubuhku Tuhan, tapi Tuhan tubuhku. Dahulukan Tuhan)

Coba kita lihat, orang yang salat itu mengaku dirinya Tuhan. Jangan salah paham dengan perkataan ini. Bukan kita mengaku diri kita Tuhan, melainkan Diri Tuhan yang kita akui "Allahu Akbar" atau ketika membaca Fatihah dan surat-surat lain, semua itu yang kita aku: Diri Tuhan.Maka dalam salat itu hati kita harus kekal terus dengan Tuhan. 

Kalau kita aku diri kita Tuhan, kafir.
   Kalau tidak kita aku diri Tuhan, kufur.

4 Potensi Pandangan Manusia

Jangan lupa, perlu kita ketahui bahwa kita ini mempunyai 4 pandangan:
  1. pandangan jasmani,
  2. pandangan ruhani,
  3. pandangan nurani (rahasia)
  4. pandangan Rabbani (Tuhan)

سَنُرِيهِمۡ ءَايَـٰتِنَا فِى ٱلۡأَفَاقِ وَفِىٓ أَنفُسِہِمۡ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ‌ۗ أَوَلَمۡ يَكۡفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ ۥ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ۬ شَہِيدٌ
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur'an itu benar.(Q.S. Fushilaat: 53)

Bagaimana kita meng-karam-kan pandang kita pada pandangan Rabbani?
Jika pandangan Rabbani ini kita gunakan, Anda duduk di kutub utara, kami bisa melihat Anda. Pelajarilah kacamata yang empat ini. Hanya orang-orang arif billah yang bisa mempraktikkannya. Carilah pengetahuan orang-orang arif billah karena banyak manusia tidak tahu, sekarang manusia sudah banyak terbenam dalam lumpur sehingga untuk bertemu pun susah.

scratches-lparchive.org
Jika kita bertubuhkan kertas kosong, mustahil tidak mengetahui dengan pasti detail setiap huruf dan maknanya.

ocean-life
Jika kita bertubuhkan samudera, mustahil tidak tahu detail kehidupan air.


Musyahadah yang benar:
Hasilnya bisa mendapatkan kasyaf qalbi dan kasyaf sir.


Wassalam
. Amin.

- Syaikh Sirad -


"Jika kebenaran yg disampaikan Rasulullah kepadaku aku berikan kepada kalian, niscaya kalian akan menghalalkan darahku dan memenggal kepalaku."
-Ali bin Abi Thalib r.a.-
 
 
 
 
catatan kaki:
Sobat mungkin ada yang belum mengetahui soal adanya konflik tiada henti soal ke-sahih-an suatu hadis. Konflik ini erat kaitannya dengan fenomena bergolongan-golongannya di tubuh Islam, utamanya golongan besar Sunni dan Syiah [jika Allah berkehendak, insyaAllah kita bahas soal hadis "73 golongan" ya]. Kedua golongan ini saling mensahihkah hadis "keluaran" sendiri dan mengingkari hadis keluaran selainnya. Keduanya saling menuduh "berbohong atas nama Rasulullah Saw.". Salah satunya hadis tentang "makhluk pertama yang diciptakan Allah.
"Hadis "makhluk pertama" yang dipegang kelompok Sunni: 
“Yang pertama kali Allah ciptakan adalah al-Qalam (pena), lalu Allah berfirman kepadanya: ‘Tulislah!’ Ia menjawab: ‘Wahai Rabb-ku apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman: ‘Tulislah taqdir segala sesuatu sampai terjadinya hari Kiamat.’” HR. Abu Dawud [no. 4700], Shahih Abi Dawud [no. 3933], at-Tirmidzi [no. 2155, 3319], Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah [no. 102], al-Ajurry dalam asy-Syari’ah [no.180], Ahmad [V/317], Abu Dawud ath-Thayalisi [no. 577], dari Sahabat ‘Ubadah bin ash-Shamit Radhiyallahu ‘anhu, hadits ini shahih). 
Hadis "makhluk pertama" yang dipegang kelompok Syiah:
“Saya bertanya: ‘Wahai Rasulullah, Demi bapak dan ibu saya sebagai tebusan bagimu, kabarkan kepada saya tentang makhluk yang pertama Allah ciptakan sebelum Dia menciptakan selainnya.’ Beliau menjawab: ‘Wahai Jabir, makhluk yang pertama Allah ciptakan adalah cahaya Nabimu yang Dia ciptakan dari cahaya-Nya. Kemudian Dia menjadikan cahaya tersebut berputar dengan kuat sesuai dengan kehendak-Nya. Belum ada saat itu lembaran, pena, surga, neraka, malaikat, nabi, langit, bumi, matahari, bulan, jin, dan juga manusia. Ketika Allah hendak menciptakan, Dia membagi cahaya tersebut menjadi 4 bagian. Kemudian, Allah menciptakan pena dari bagian cahaya yang pertama; lembaran dari bagian cahaya yang kedua; dan `Arsy dari bagian cahaya yang ketiga. Selanjutnya, Allah membagi bagian cahaya yang keempat menjadi 4 bagian lagi. Lalu, Allah menciptakan (malaikat) penopang `Arsy dari bagian cahaya yang pertama; Kursi dari bagian cahaya yang kedua; dan malaikat yang lainnya dari bagian cahaya yang ketiga. …[di akhir hadits beliau mengatakan] Beginilah permulaan penciptaan Nabimu, ya Jabir.” Diriwayatkan oleh Abdur-Razzaq (wafat 211H) dlm Musannaf-nya, menurut Imam Qastallani dlm al-Mawahib al-Laduniyya (1:55) & Zarqani dlm Syarah al-Mawahib (1:56 dari edisi Matba’a al-’amira di Kairo)

Untuk kasus ini, saya cenderung berbaik sangka pada keduanya dan mencari bukti keterkaitan keduanya pada sumber Islam yang tak perlu sanad lagi, yaitu Quran. Allah itu Esa, maka segala sesuatu itu saling terkait. 

Dalam ilmu linguistik (kebahasaan) ada subdisiplin yang disebut semiotika, yaitu ilmu tentang hubungan tanda-penanda-petanda. Berikut ini analogi sederhana tentang kemungkinan yang ada:


semiotic-chart-of-ilm
Semiotika Qalam dan Nur

Singkatnya, silakan Sobat perdalam ayat-ayat Quran yang menyebutkan soal "nuur". Dalam analisis sederhana ini disimpulkan adanya kemungkinan kedua kelompok sama-sama menerima hadis yang benar. Keduanya menerima hadis bermakna serupa dengan redaksi yang berbeda

Dengan tanpa mengurangi rasa hormat, siapa pun yang menafsirkan Nur Muhammad identik dengan Nabi Muhammad Saw. bin Abdullah binti Aminah yang lahir di Mekah dan wafat di Madinah, sungguh Anda kurang cermat meng-iqra dalil. 

Mohon bedakan klausa berikut:
Wahai Jabir, makhluk yang pertama Allah ciptakan adalah cahaya Nabimu 
                                                    dengan
Wahai Jabir, makhluk yang pertama Allah ciptakan adalah Nabimu. 

Ya, saya sadari tulisan ini akan membuat sebagian orang menandai saya sebagai seorang Syiah atau pendukung Syiah. Itu saya serahkah di hadirat Allah Swt. saat ini detik ini juga. Sejujurnya saya tidak berani beranalogi ini-itu seandainya informasi soal Nur Muhammad tersebut bukanlah dari seorang arif billah yang tidak berdiri dalam golongan mana pun. Mengenai ini semua, tentu akan kita dapati kebenarannya di hadapan al-Mizan kelak. Allahu'alam



Sebagai muslim akhir zaman, wajar jika kita lebih dulu mengenal salat sebelum mengenal Allah. Padahal umat masa awal dibimbing Rasulullah Saw. untuk mengenal Allah dulu baru kemudian mengenal ibadah syariat. Muxlimo's Lair mengajak umat menggenapkan pondasi akidah yang awal: ilmu tauhid. Mengenal Yang Disembah sebelum melakukan penyembahan, inilah sebenar-benar Islam. Mari membersihkan iman, akhlak, dan amal dari kesyirikan yang mungkin masih terselip dalam peribadatan kepada Allah Swt. InsyaAllah. Aamiin Ya Rabb al-alamiin

Artikel Iblis, Setan Paling Purba, dan Orang Kebatinan Paling Sakti Takut Anda Membaca Tulisan Ini ini ditulis dari ♥ dengan harapan sampai juga ke ♥. Semoga Allah mudahkan penulis dan pembaca semua mengamalkan kebaikan di dalamnya; semoga Allah lindungi penulis dan pembaca semua dari keburukan di dalamnya. Aamiin. Jangan sungkan memberikan tanggapan Sobat untuk tulisan bertajuk Iblis, Setan Paling Purba, dan Orang Kebatinan Paling Sakti Takut Anda Membaca Tulisan Ini .Terima kasih