هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِى لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ‌ۖ عَـٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَـٰدَةِ‌ۖ هُوَ ٱلرَّحۡمَـٰنُ ٱلرَّحِيمُ. هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِى لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡقُدُّوسُ ٱلسَّلَـٰمُ ٱلۡمُؤۡمِنُ ٱلۡمُهَيۡمِنُ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡجَبَّارُ ٱلۡمُتَڪَبِّرُ‌ۚ سُبۡحَـٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِڪُونَ. هُوَ ٱللَّهُ ٱلۡخَـٰلِقُ ٱلۡبَارِئُ ٱلۡمُصَوِّرُ‌ۖ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ‌ۚ يُسَبِّحُ لَهُ ۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ‌ۖ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ

Laman

Senin, 17 September 2012

SAMUDRA HAKIKAT AL-QUR’AN

SAMUDRA HAKIKAT AL-QUR’AN

Ketahuilah! Bahwa Alam yang kita lihat sangatlah Luas ini baik di langit maupun di bumi, mencakup keseluruhannya yaitu sekalian Alam, terhimpun atau terangkum akan rahasia Ilmunya di dalam 30 Juz Al-Qur’an. Artinya adalah siapa-siapa yang membaca dan memahami Al-Qur’an.maka sama halnya ia melihat kepada Sekalian Alam. Karena Hakikat penciptaan Alam ini termuat pada 30 Juz Al-Qur’an 114 Surah 6666 Ayat.
Sangat Agung sekali Kitab Al-Qur’an itu yang diturunkan kepada Rosulullah Saw yang kemudian menjadi Kitabnya orang-orang Islam. Bahkan dikatakan bahwa Al-Qur’an itu sebagai penyempurna dari pada kitab-kitab sebelumnya. Akan tetapi keagungan dari pada Al-Qur’an itu bukan lah di lihat dari pada tulisan dan bacaannya, melainkan dari pada makna yang tersirat/terkandung didalamnya.
Adapun tulisan atau bacaan yang termuat di dalam kitab itu tidak ada bedanya dengan buku-buku bacaan biasa, sehingga letak keImanan seseorang apa bila terfokus kepada Kitabnya/bukunya itu sama halnya ia beriman kepada sesuatu yang bakal hancur. Saya katakana bakal hancur karena apabila kitabnya/bukunya itu di masukkan ke dalam api ia akan terbakar, dimasukkan kedalam lautan ia akan basah. Jangan kan di bakar dan dimasukkan ke dalam air, di taruh saja di atas lemari, tidak di rawat dan di urus lambat laun ia akan rusak dan lapuk di makan oleh Rayap.

Sudah kewajiban bagi seorang Mukmin untuk beriman/mempercayai kepada kitab Al-Qur’an yang dibawa oleh Rosulullah Saw. Tetapi yang perlu direnungkan adalah keimanan/kepercayaan seseorang akan sesuatu itu, akan di bawa sampai mati bahkan sampai ke Robbul Jalil. Jika yang di Imani adalah sesuatu yang rusak dan hancur, maka keimanan nya akan dipertanggung jawabkan di Hari Kemudian kenapa beriman kepada sesuatu yang hancur.
Tetapi apabila ia mengerti bahwa yang diimani itu bukanlah “Kitabnya/bukunya” melainkan yang terkandung di dalamnya yaitu “Firman Allah” maka keimanan seperti itulah yang akan menjadi penolongnya di hari kemudian, karena Makna yang terkandung di dalam kitab itu yaitu “Firman Allah” itu tidak akan hancur dan tidak akan Musnah sampai kapan pun juga.
Allah Swt berfirman :
Dan sekiranya Qur’an diletakkan di atas gunung, maka gunung dapat digoncangkan atau diletakkan pada bumi, maka bumi jadi terbelah atau diletakkan pada orang mati maka orang-orang yang sudah mati dapat berbicara”(QS, Ar Ra’d : 31)
Qur’an yang manakah yang di maksud di ayat tsb?
Saya yakin jika Qur’an kitab yang berbuku itu yang diletakkan di atas gunung maka pastilah gunung itu tidak akan hancur dan bergoncang akan tetapi Buku nya yang akan rusak terkena panas dan hujan.
Tetapi jika Allah berfirman kepada Gunung (Makna Qur’an) :”Hai Gunung bergoncanglah engkau! Maka pastilah Gunung itu akan Bergoncang, Hai Bumi terbelahlah! maka pastilah Bumi akan terbelah, Hai orang mati bicaralah! Maka pastilah orang mati bisa berbicara.
Sehingga sangat keliru jika mengartikan Al-Qur’an itu hanya sebatas arti Harfiah saja yaitu diartikan sebagai “BACAAN”. Padahal kita mengetahui bahkan seluruh orang Muslim tahu bahwa Al-Qur’an itu adalah Firman Allah, Kalam Allah, Perkataan Allah dan Suara Allah. Jadi tidak bisa dipersamakan “FIRMAN ALLAH” dengan “BACAAN”. Lalu di mana letak keagungannya Al-Qur’an jika hanya sebatas “BACAAN” saja, tetapi jika Al-Qur’an itu dimaknai dengan “FIRMAN ALLAH”, maka itu lah keagungan yang sangat Mulia sekali.
Kemudian dari Firman Allah yang terdiri dari 30 Juz 114 Surah dan 6666 Ayat itu terangkum lagi tersimpulkan lagi di dalam Surah “Al-Fatihah”. Di dalam Surah Al-Fatihah itu dikatakan di Hadits Qudsi sebagai 7 ayat yang berulang-ulang. Firman Allah “Aku turunkan kepada mu 7 ayat yang berulang-ulang yaitu : Tiga Bagi-Ku, Satu antara engkau dan Aku dan tiganya lagi Bagimu. Tiga bagi-Ku adalah ; Alhamdulillahirobbil’aalamiin. Arrohmaanirrohiim. Maa liki yau middiin. Satu antara engkau dan Aku adalah ; Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nas ta’iin. Dan Tiga bagimu adalah ; Ihdinashirootol Mustaqiim. Shirootolladziina an’amta alaihim. Ghoiril Maghdu bi’alaihim waladhoo-lliin.
Surah Al-Fatihah itu terdiri dari pada 7 Ayat yang terbagi menjadi :
3 (Tiga) Bagi Allah
1 (Satu) Antara Insan dengan Allah
3 (Tiga) Bagi Insan
Lalu keseluruhan dari 7 Ayat tsb sama dengan 3 1 3, sebagaimana juga di riwayatkan bahwa jumlah seluruh Rosul itu ada 313 Rosul.
Kemudian Kandungan Surah Al-Fatihah itu terangkum lagi, tersimpulkan lagi pada Kalimah “Bismillahirrohmaanirrohiim”, artinya adalah : Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih Penyayang. Akan tetapi makna dari pada Kalimah tsb adalah : Allah Hadir pada tiap-tiap sesuatu juga pada dirimu dalam sifat Kasih dan Sayang-Nya.
Bagi mereka-mereka yang mengerti akan Makna daripada Kalimah “Bismillahirrohmaanirrohiim” maka sama halnya ia telah memaknai Surah Al-Fatihah, dan mereka yang dapat memaknai Al-Fatihah maka sama Halnya ia telah memaknai 30 Juz Al-Qur’an 114 Surah 6666 Ayat, dan bagi mereka yang telah dapat memaknai 30 Juz Al-Qur’an maka sama Halnya ia telah memaknai rahasia Kehidupan Seluruh Sekalian Alam.
Karena itu setiap orang Muslim ketika ingin memulai sesuatu pekerjaan selalu didahului dengan ucapan “Bismillahirrohmaanirohiim”. Dimana makna nya adalah, Allah Hadir pada tiap-tiap sesuatu juga pada dirimu dalam sifat Kasih dan Sayang-Nya.
Itulah yang dianjurkan oleh Baginda Nabi Muhammad Swt, dan terus turun temurun sampai kepada orang-orang tua kita. Lalu menjadilah suatu budaya bagi orang muslim untuk memulai sesuatu pekerjaan itu dengan ucapan “Bismillahirrohmaanirrohiim”. Kenapa saya katakan bahwa itu menjadi budaya bagi orang Muslim, padahal itu kan suatu kebaikan yang ada dalam Agama Islam sebagai “Sunnah”?. Benar! Akan tetapi sesuatu yang dilakukan atau diperbuat jika tidak mengetahui Rahasia dan Makna yang terkandung didalamnya maka sesuatu itu tidak ubahnya sama halnya dengan Budaya?
Jika memang itu adalah suatu “Sunnah”, maka ketahuilah Rahasia dan Maknanya. Jika tidak maka apa yang di perbuat dan dilakukan tidak akan memberikan barokah pada dirinya walaupun ia telah memulainya dengan “Bismillahirrohmaanirrohiim”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar