هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِى لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ‌ۖ عَـٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَـٰدَةِ‌ۖ هُوَ ٱلرَّحۡمَـٰنُ ٱلرَّحِيمُ. هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِى لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡقُدُّوسُ ٱلسَّلَـٰمُ ٱلۡمُؤۡمِنُ ٱلۡمُهَيۡمِنُ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡجَبَّارُ ٱلۡمُتَڪَبِّرُ‌ۚ سُبۡحَـٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِڪُونَ. هُوَ ٱللَّهُ ٱلۡخَـٰلِقُ ٱلۡبَارِئُ ٱلۡمُصَوِّرُ‌ۖ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ‌ۚ يُسَبِّحُ لَهُ ۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ‌ۖ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ

Laman

Rabu, 19 September 2012

NYATA ! ALLAH TAK TERSELIMUTI TABIR

NYATA ! ALLAH TAK TERSELIMUTI TABIR

Pandangan Syuhud, suatu pandangan yang tidak ada keraguan. Jika masih ragu-ragu, maka gemerlapnya cahaya yang disaksikan, bukanlah Nur Ilahi. Sebab, Al-Musyahadah adalah kehadiran Al-Haq tanpa adanya prasangka. Jadi suatu kebenaran tanpa keraguan. Itulah penyaksian dengan perasaan murni, yang disebut Musyahadah bidz-Dzauqi. Ulama sufi menyebutnya ‘Naadir’.

Seorang bisa menyaksikan kehadiran Allah, semua tergantung dari ada tidaknya ‘Jidzib’ (tarikan) Allah Yang Maha Rahman. Jadi kehadiran Al-Haq yang bisa disaksikan, adalah kebenaran yang tidak ada keraguan seserpih pun. Karena kehadiran Allah nyata. Tidak ada tabir yang mampu menutupi.

Karenanya, penyaksian terhadap Yang Haq, tidak bisa digambarkan atau dilukiskan. Jika masih bisa dilukiskan atau digambarkan, maka itu bukanlah yang sesungguhnya. Tetapi bias pikiran yang selalu berharap ingin bertemu. Atau setan yang sengaja datang menggoda.

Pertemuan dengan yang Haq, adalah urusan pribadi. Bainahu wa bainallah (antara diri dengan Allah). Ini bisa dicapai jika ada Jidzib (tarikan) dari Allah. Jadi Allah Ta’ala-lah yang menghendaki, Dia hadir pada seorang hamba. Cahaya keagungan Allah membias pada cahaya hati seorang hamba yang dikehendaki-Nya. Dan, hamba yang mampu melihat-Nya berarti telah melampaui maqam-maqam takwa.

Keyakinan
Yang dinamakan Musyahadah bidz-Dzauqy adalah menyangkut perasaan. Allah Ta'ala yang memasukkan perasaan dan pikiran. Berupa keyakinan. Keyakinan adalah kecenderungan batin untuk memastikan benar atau tidaknya sesuatu dengan melalui sebab atau tidak melalui sebab. Karena yakin itu merupakan kecenderungan batin, sedangkan batin bukan urusan langsung manusia, tetapi diurus oleh Allah swt, maka sangat perlu berdoa memohon kepada Allah agar batin dikaruniai. Tanpa karunia Allah seseorang tak akan menemukan apa yang dinamakan yakin.

Yakin adalah ilmu yang diletakkan pada hati, bukan pada pikiran. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu yakin itu tidak termasuk ilmu yang bisa diusahakan. Ilmu yakin ada tiga macam. Hal ini yang membedakan keyakinan orang yang satu dengan yang lainnya yaitu Ilmu Yakin, Ainul Yakin, dan Haqqul Yakin.
1. Ilmu Yakin adalah keyakinan yang setelah adanya beberapa keterangan dan dalil (dasar). Sehubungan dengan Musyahadah, dirumuskan sebagai berikut:”Ilmul yaqiini alladlii huwa makrifatuhu Ta’ala bil baraahiina (Ilmu yakin ialah makrifat kepada Allah Ta’ala dengan beberapa keterangan).

2. ‘Ainul Yakin adalah keyakinan berdasarkan kenyataan. Tidak ada alasan ataupun yang menolaknya, bila kenyataan itu ada. “Wa musyaahadatuhu Ta’ala qobla kullasyai-i wa huwal musama ‘indahum bilmu’aayananah.” (Musyahadah terhadap Allah Ta’ala sebelum menyaksikan segala sesuatu yang menurut para sufi disebut ‘muayanah (kenyataan/pembuktian). Hal inilah ‘Ainul Yakin.

3. Haqqul Yakin ialah keyakinan yang sebenarnya. Musyahadah terhadap Allah Ta'ala secara nyata dan meyakinkan, tanpa dalil dan pembuktian. “Haqqul Yaqiin huwa musyahadatuhu Ta’ala fi kulla syai-in bilaa huluulin wat tihaadiu wan fishaliu wala ittishaalin.” (Haqqul Yaqin ialah musyahadah terhadap Allah dalam segala sesuatu tanpa hulul (bersatu) tanpa ittihad (terpadu) tanpa ittishol (bersambung), dan tanpa infishol (berhubung-hubungan).

Karenanya, penyaksian dengan perasaan murni itu adalah suatu penyaksian yang tidak perlu diragukan lagi. Harus Haqqul Yakin, sebab keyakinan itu ditanamkan oleh Allah pada perasaan dan pikiran yang menemukannya. Sehingga, tidak sedikit pun ada prasangka bahwa yang disaksikan lain dari Al-Haq.

ALLAH NYATA
Dalam kitab Al-Hikam disebutkan, bahwa Allah itu sangat nyata. Tanpa ada sesuatu pun yang menabiri atau menutupinya. Dia bisa dilihat secara jelas. Namun mengapa kita tidak bisa melihat-Nya? Itu tidak lain ada sesuatu yang menutupi pandangan kita. Ada yang menabiri mata hati kita. Sehingga penglihatan kita tidak mampu menyaksikan Allah Ta’ala.

Jadi, yang tertabiri adalah mata hati kita. Tertutup oleh banyaknya cahaya selain Allah. Yaitu tabir kebendaan, tabir keduniaan dan segala isinya, nafsu, birahi, dan sebangsanya. Bukan Allah SWT yang terselimuti, sehingga tidak dapat dilihat.

Kaifa yatashauwaru ayyahjubahu syaiun wa huwal ladzi adh haru kulla syaiin (Bagaimana mungkin sesuatu dapat menandingi Allah, padahal Dialah yang menzahirkan sesuatu).

“Kaifa yatashauwaru ayyahjubahu syaiun wa huwal ladzi dhohari fi kulla syaiin” (Bagaimana mungkin sesuatu dapat menandingi Allah, padahal Dialah yang tampak pada segala sesuatu).

“Kaifa yatashauwaru ayyahjubahu syaiun wa huwadh dhaahiru qobla wujuudi kulli syaii” (Bagaimana mungkin sesuatu dapat menandingi Allah, padahal Dia Maha Nyata sebelum adanya sesuatu).

“Kaifa yatashauwaru ayyahjubahu syaiun wa huwa adhharu mingkulli syaii” (Bagaimana mungkin sesuatu dapat mendingi Allah, padahal Dia lebih nyata dari sesuatu).

“Kaifa yatashauwaru ayyahjubahu syaiun walaullahu maakaana wajuudu kulli syai” (Bagaiaman mungkin sesuatu dapat menandingi Allah, padahal kalau tidak Dia, tidak segala sesuatu).

“Yaa ‘ajabaa kaifa yadh harulwujuuduhu fil ‘adami” (Alangkah ajaibnya, bagaimana mungkin Yang Maha Ada bisa Zhahir/nyata di dalam yang tidak ada).

Dalam ajaran Musyahadah (penyaksian) terhadap Allah SWT, Allah Maha Nyata dari segala yang nyata. Ada suatu prinsip yang paling mendasar, yaitu keyakinan yang tertanam pada batin bahwa Allah Maha Nyata dibanding dari segala yang nyata. Dan, Allah Maha Dekat dari segala yang dekat.

Hakikat ketuhanan (yang ada pada diri manusia) yang membedakan antara manusia dengan binatang. Maka sesungguhnya bukan mata, tetapi buta hati yang ada di dalam dada.

“Siapapun yang hidup di dunia ini dalam kebutaan, maka di akhirat kelak akan lebih buta dan sesat jalan. (QS. Al-Isra’ : 72)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar